THANKS…… The Short Stories

Gambar

TIME TO READING THE SHORT STORIES…

 

Title                : Thanks….

Author           : Kumala Septiawati( @kumalasilver )

Main Cast     : Lian Damalia/Kumala

Genre                        : Life and Family.

Length           : One shoot

Rating            :  G, General Audience

 

THANKS….

 

Thanks….

I just say thanks..

Cause You gave me the memories,

When I can remember..

In my treasure LIFE…..

LIFE…

The LIFE, when you open your eyes..

And you can seem everything who you’re do not knew

About it..

And “it”…

“it” can make you understanding about

Who are your self…

And “You”..

Who are you without theirs??

And “Their”..

Who is???

Their is the Happiness.

When can make your life so beauty

And can make your soul so calm

And you always sleep at their hugs…

You can’t life without their..

Because, their is your LIFE’s….

 

Sumarry…

Aku masih mengikat tali sepatu ku, yang aku rasa sangatlah membosankan. Ya, aku lebih memilih mengikatnya kuat-kuat dan tidak akan melepasnya karena aku tidak mau repot. Yups, namaku Lian Damalia. Aku seorang murid di SMPN di kota ku. Aku kelas 9 atau tepatnya kelas 3 SMP.

Setelah aku selesai dengan urusan sepatuku. Aku pun segera berangkat seperti biasa di antar oleh ayahku. Ku awali hariku dengan mengucapkan Bissmillah. Semoga hari ini menjadi hari yang bermakna dalam hidup ku. Dan semoga hari ini menjadi hari yang dapat ku jadikan pelajaran dan memories di setiap detiknya. Karena pada dasarnya, aku atau siapa pun tidak pernah mengetahui, sampai dimana panjangnya umur kita. Maka dari itu, aku berusaha mengingat setiap detik dari hidupku. Walaupun, aku tidak tahu sampai mana memori otakku akan sanggup menyimpan semuanya.

***

Tidak seperti biasanya. Hari ini aku begitu semangat mengerjakan pelajaran matematika di kelas. Aku merasa sangat bergairah hari ini. Semangat belajarku seakan-akan menyuruhku lomba lari melawan waktu yang tidak pernah kalah dalam perlombaan lari melawan diri dari setiap manusia. Ya, bagiku waktu adalah lawan yang perlu di perhitungkan saat ini. Dari dulu, aku memang selalu berusaha untuk mengalah dan dapat mengejar posisi waktu yang selalu di depan. Mungkin saat di lintasan aku bisa melihat kebelakang. Tapi, saat aku berdampingan dengan waktu dalam kompetisi mencari ke-ridho’an. Aku tidak bisa melihat ke belakang. Mungkin hanya bisa melirik. Tapi, untuk melihat sepenuhnya. Aku tidak bisa. Karena waktu menuntutku untuk selalu menatap ke depan, waktu berpesan padaku. Kalau aku berkompetisi melawan dia. Aku tidak boleh sedikit pun kembali kebelakang. Karena ku tahu waktu lebih senior dariku. Jadi, aku menurut saja perkataan waktu. Karena, waktu juga pernah bilang padaku. Saat kita sudah mengambil keputusan untuk jauh, dan kita kembali lagi kebelakang walau untuk mengambil satu benda. Itu akan sangat sakit sekali. Terkadang, waktu juga mengajarkan ku tentang arti nyata dan tidak nyata. Yang mana mimpi, dan yang mana bukan mimpi. Yang mana harus di hadapi, dan yang mana yang tidak harus di hadapi. Yang mana HIDUP dan yang mana yang namanya MATI.

***

Bel pun berbunyi. Setelah keluar dari kelas. Rani, Diyah, dan Alya. 3 orang sahabat ku ini langsung menghampiriku dikelas ku. Aku sangat bersyukur karena Tuhan telah mengirimkan orang-orang yang baik dan bisa menemaniku disaat aku perlu tempat untuk merintih. Sahabat. Merekalah sahabat terbaik yang pernah kukenal. Orang asing, orang jauh, dan orang lain yang masuk kedalam hidupku dan memberikan beberapa percikan warna berarti bagi hidupku. Aku pun punya sahabat, kali ini sahabat ku tidak ada tandingannya. MEREKA ADALAH SAHABAT TERBAIKKU DI DALAM HIDUPKU. Mereka adalah kedua orang tuaku. Sebaik-baiknya sahabat atau teman sekolahku. Tetap, kedua orang tuaku lah yang menjadi sahabat terbaik nomor satu didalam hatiku.

Kembali ke kata “seperti biasa”. Aku pulang bersama-sama dengan ketiga sahabat dekatku ini. Kemana-mana aku dan mereka selalu bersama. Tak kusangka, dihari yang seterik ini. Aku bisa lewati hariku di sekolah dengan lancar. Mulai dari aku berangkat, belajar, sampai pulang. Setengah hari hampir sudah aku lewati. Masih ada sisa 12 jam lagi dalam umurku satu hari ini. Waktu mulai menampakkan dirinya lagi dalam angka yang berbeda setiap harinya. Hanya 1-12 dan hitungan dari 1-23. Aku tidak tahu, kira-kira sampai angka keberapa umurku akan berjuang.

Kami pun menunggu angkot didepan sekolah, seperti biasa. Tapi, kali ini sedikit berbeda. Aku hari ini dijemput oleh ibuku. Seorang wanita yang sangat kukagumi. Walau terkadang, aku sering nakal padanya. Tapi, sebisa mungkin. Aku tak mau berbuat banyak dosa padanya. Walau kasih sayang tak begitu ku tunjukkan. Tapi jujur, didalam hatiku. Aku selalu berdoa untuk kesehatan, keselamatan dan semoga mereka, ayah dan ibuku selalu di ridho’i oleh Tuhan. Ibuku yang menunggu di seberang jalan pun telah menanti ku. Setelah aku berpamitan dengan teman-temanku. Aku pun menunggu jalanan sedikit sepi agar aku bisa menyeberang dan menemui ibuku.

Lian!! Hati-hati dijalan ya.” Suara itu begitu hangat di telinga ku. Rani, dia yang memesaniku untuk hati-hati. Aku pun melihat kebelakang, kearahnya. Dan kuberikan senyumanku yang hangat kepada sahabat yang sudah seperti kakakku ini. Setelah aku menunggu tidak terlalu lama, aku pun menyeberang dengan sangat hati-hati. Setelah fokus melihat kekanan dan kekiri. Aku pun juga memberikan senyuman hangat kepada ibu ku. Ibuku membalas senyumanku. Dia sedang menunggu di motor sambil memegang helm untuk aku pakai. Di tengah jalan saat menyebrang. Seketika, aku merasakan angin semilir melintas dipandanganku. Dan membuatku melamun seketika. Langkahku menjadi begitu berat. Dadaku sesak, aku tiba-tiba susah bernafas. Aku berusaha mengangkat kaki dan kelopak mataku yang begitu berat serta aku berusaha menarik kembali nafasku yang hilang. Aku tersadar, suara klakson menjerit ditelingaku. Aku pun melihat kearah kanan. Kulihat mobil putih sedang datang. Saat sadar pun langkahku masih begitu berat. Kualihkan pandangan ku ke ibuku. Ibuku sedang berlari kearahku sambil meneriakkan namaku. Telingaku berdengung, aku tidak dapat mendengar apapun. Aku pun kembali sadar untuk yang dua kalinya. Kini aku rasa tubuhku seakan melayang. Namun tiba-tiba terjatuh diaspal. Aku pun terduduk dan menatap sedih apa yang baru saja aku pandang di hadapanku. Kulihat sosok yang dengan setia selama 14 tahun mendampingi ku dalam hidupku. Kini terbujur kaku, dengan lumuran cairan yang aku sendiri tak mampu menyebutkan apa itu. Masih ku lihat matanya terbuka. Aku sadar untuk yang ketiga kalinya. Aku taruh kepalanya di pangkuanku. Kutatap matanya dalam dengan air mata yang mengalir di pipiku. Orang disekelilingku berteriak “panggil ambulance, cepat cepat!!!”. Kulihat mulutnya terbuka berusaha mengucapkan sesuatu. Aku tak bisa berhenti meneteskan air mataku.

Jaga dirimu baik-baik, jangan nakal, jaga kakakmu, ayahmu, dan jadilah anak yang baik. Ibu menyanyangimu. Doakan ibu ya. Ibu tahu kau adalah anak yang berbakti. Asyhadu’allahillaha’ilallah wa’asyhadu’allah muhammadarasulullah….” aku pun berteriak setelah ku tahu dia perlahan menarik nafas dan menutup kedua kelopak matanya. Tak kusangka dia mengucapkan dua kalimat berarti itu.

                                                                      ***

Semua orang menangis diruangan ini. Entah kenapa, mata ini seakan malu menunjukkan tugas yang seharusnya. Aku hanya bertanya dalam hati. Kenapa harus orang yang kusayang yang harus pergi?? Kenapa bukan aku? Aku yang selalu membuat orang repot? Aku yang selalu membuat orang kesal? Aku yang terkadang durhaka? Kenapa bukan aku? Dia, dia orang yang baik. Kenapa Engkau ambil dia, ya Tuhan??? Orang-orang menyayangi dia. Kenapa bukan aku sahaja yang Engkau panggil?? Aku, bukanlah dia!! Kalau seandainya Engkau izinkan, tukar aku dengan dia, Tuhan. Aku tak sadar telah meratapi tubuh yang terbujur dingin dan tersenyum di hadapanku ini. Di balik kain putih tipis yang menutupi wajah cantiknya itu, aku bisa melihat dia tersenyum kepada orang di sekelilingnya yang sedang melantunkan lagu-lagu untuk menghantarkan dia kesisi Yang Maha Kuasa. Wajahnya bagaikan emas yang menggunung. Aku hanya bisa berdoa semoga dia di terima amal kebaikkannya, di tenangkan arwahnya, dilapangkan tempat beranda tidurnya, di terangkan ruangan kamarnya, dan semoga dia selalu di lindungi oleh amal-amal yang selalu mengiringinya selama dia hidup. Aku pun menutup buku surah yaasiin ku. Tak ada satu tetes pun air yang jatuh dipipiku. Aku pun mendekatinya, membuka kain terakhirnya, dan mencium keningnya untuk yang terakhir kali.

Ibu, tenanglah kau disana bersama Dia. Aku akan mendoakan mu disini. Aku akan selalu merindukanmu. Terima kasih atas segalanya selama ini, ibuku. Aku menyayangimu. Kau satu-satunya wanita yang paling kukagumi. Walau ada seribu ibu di dunia. Kaulah yang terindah dimataku. Segala ikhitiar mu selama ini untuk membesarkanku. Akan kubalas sebisa ku dengan selalu mendoakanmu. Selamat pergi Ibuku, tenanglah di tempat terindahmu sekarang. Aku menyayangimu,Ibu….”.

***

Aku pun terbangun ditengah malam. Tidak seperti biasanya aku terbangun tengah malam begini. Aku pun ingat akan salah satu pesan almarhum ibuku.

“Lian, jika kamu terbangun di tengah malam. Maka laksanakanlah shalat malam. Niscaya, apa yang engkau pinta pada malam itu juga, akan di sampaikan oleh malaikat. Dan malaikat akan senantiasa menemani serta mendoakan mu di satu hari mu setelah engkau terbangun dipagi hari.”

Aku pun mengambil air wudhu, dan aku memakai mukenah pemberian ibuku saat hari ulang tahunku yang ke-12 dulu. Setelah aku bersembah kepada-Nya, dalam 2 rakaat itu. Selalu kulantunkan doaku untuk ibuku disana. Di sujud terakhir, aku berdoa “Ya Allah, Engkau ESA, Engkau Maha Kuasa, Engkau Maha Mengetahui, maka jadikanlah semua  ini hanya sekedar mimpi. Aamiin..”

Aku tidak tahu apa yang kupikirkan saat ku lampirkan doa tersebut. Hanya satu yang kupikirkan, Aku terbangun dari tidur dan menemukan ibu dan ayahku serta kakakku berada di satu ruangan yang sama denganku” hanya itu yang aku pikirkan. Aku tidak tahu. Apakah aku sedang berkhayal, atau ini memang benar-benar sebuah mimpi. Aku tak tega melihat ibuku kedinginan di tempat itu. Dari yang kutahu. Seseorang yang telah berpulang, jika dia seorang orang tua. Dan dia kedinginan di kamar terakhirnya, selimut yang akan menghangatkannya adalah doa dari anak yang shaleh lagi shalehah. Dan jika dia tidak bisa melihat karena kamar terakhirnya gelap, maka yang akan menerangkan kamarnya adalah cahaya dari amal kebaikannya. Dan jika dia merasakan sempit di kamarnya itu, maka dia bisa merasakan lapang selapang gurun sahara hanya dengan amal sodakoh yang ia amalkan selama dia hidup. Dari ketiga kesulitan dari sekian kesulitan di kamar terakhir dari seorang yang telah berpulang. Hanya satu aku bisa membantu ibuku. Dengan mendoakannya. Aku bersyukur masih bisa hidup, dan bisa mendoakan ibuku yang belum ada 40 hari berpulang kesisi-Nya. Hanya berusaha menjadi anak yang shalehah dan selalu mendoakan dia agar dia selalu merasakan kehangatan dari doa-doa yang kukirimkan. Kuharap, semua doaku untuknya. Selalu di dengar oleh para malaikat Allah, dan selalu di terima Allah sehingga ibuku baik-baik saja disana. Ibu, tunggu aku nanti.

***

Aku merasa sangat kelelahan, mungkin karena acara 40 hari meninggalnya ibuku sehabis isya tadi malam. Tidak seperti biasanya shalat shubuh pun aku dibangunkan oleh kakakku.

Aku pun bangun dan segera mengambil wudhu. Kulihat ayahku sudah menunggu diruang shalat dengan baju kokoh putih pemberian almarhum ibuku. Biasanya aku selalu shalat sendiri, karena kutahu ayah dan kakakku pasti sudah shalat. Akan tetapi, kali ini kami shalat berjamaah. Hanya saja kali ini  berbeda, dengan tanpa kehadiran sosok ibuku.

Setelah shalat dan berdoa. Kakakku segera mengajakku keluar. Dia berkata padaku untuk jangan menganggu ayah dulu. Pikirku, mungkin ayah sedang merindukan ibu. Makanya hari ini dia memakai baju kokoh pemberian ibuku. Setelah selesai shalat. Aku segera mandi. Setelah siap-siap, aku pun sarapan bersama kakak dan ayahku. Aku dan keluargaku memang tidak terbiasa sarapan berat dipagi hari. Jadi kami hanya makan roti dengan selai.

Setelah ayahku mengunci pintu, dan kakakku pergi berangkat kerja. Aku pun pergi kesekolah di antar ayahku. “Nanti pulang sekolah, kakakmu yang akan menjemput ya Lian.” Ucap ayahku. Aku pun mencium tangan ayahku dan menganggukkan kepala tanda mengerti akan perkataan ayahku tadi. Aku pun menjalani hariku seperti biasa. Aku belajar dikelas seperti biasa, belajar pelajaran yang aku pelajari hari ini. Mungkin, hanya semangat yang kini aku butuhkan. Aku masih terbawa perasaan akan kehilangan sosok ibuku.

Bel sekolah tanda pulang pun berbunyi. Bel ini selalu mengingatkanku pada kejadian waktu itu. Sungguh miris rasanya jika membayangkannya. Sudahlah, mungkin hatiku masih begitu kecut bila menceritakannya kembali. Aku sungguh tidak menyangka akan kejadian itu. 40 hari sudah, tapi kenapa ibuku tidak kembali?? Entahlah aku seperti orang bodoh yang mengharapkan doa ku yang waktu itu terkabul. Doa yang meminta agar Tuhan menukar ibuku dengan aku. Aku yang disana, dan Tuhan mengembalikan ibuku hidup kembali. Aku masih menunggu itu sampai sekarang.

Aku pun keluar sekolah bersama dengan Rani, Diyah, dan Alya seperti biasa. Saat akan menyeberang, aku seketika mengingat kejadian itu. Air mataku hampir menetes jatuh di kelopak mataku. Akan tetapi, aku sadar untuk yang keempat kali, Diyah sahabatku memegang tanganku. “Jangan melamun disini!! Ayo kita menyeberang!! Biar aku pegang tanganmu, kita akan hati-hati menyeberang kesana.” Aku hanya menatap heran sahabatku ini. Aku pun menyeberang bersama ketiga sahabatku. Kulihat kakakku Gian sudah menunggu diseberang sambil memainkan kunci motornya. Aku pun berpamitan dengan sahabatku lalu naik motor dan pulang bersama kakakku.

Ditengah jalan, kakakku menepi dan memberhentikan motornya dipinggir jalan.

Kak, kenapa berhenti??.” Tanyaku kepada kakak.

Sebentar ya, ada telepon, An.” Kakakku pun mengangkat telepon dari handphonenya. Aku dan kakakku tidak turun dari motor. Sembari aku menunggu kakakku, aku hanya melihat pemandangan disekitar ku. Ada taman disekitar tempat aku berhenti. Tiba-tiba, kakakku berteriak. Aku pun terkejut. Kakakku langsung menutup telepon dan segera menghidupkan motor. Nampaknya kakakku sedang terburu-buru tapi aku tidak berani bertanya ada apa. Wajah kakakku terlihat sangat cemas. Kakakku membawa kami tidak pulang kerumah. Aku berpegangan erat dengan kakakku. Tidak seperti biasanya kakakku membawa motor dengan sedikit melibihi batas. Setelah sampai, ternyata kakakku membawa kami kerumah sakit. Kakakku langsung memegang tanganku dan masuk kedalam rumah sakit tersebut. Aku hanya mengikuti kemana kakakku akan pergi. Kakakku langsung menuju ketempat informasi. Betapa terkejutnya aku saat kakakku menanyakan diruangan mana ayahku di rawat. Setelah perawat memberi tahu dimana. Kakakku kembali membawa tanganku naik keatas ketempat ayahku di rawat. Ternyata ayahku masuk ruang UGD. Lampu merah masih menyala diatas pintu ruangan gawat tersebut. Kakakku langsung duduk diruang tunggu.

***

Untuk yang kedua kalinya. Aku kembali tidak bisa meneteskan air mataku. Aku terus bersembunyi dibalik tubuh kakakku yang sedang khusuk membaca surah yaasiin sambil berusaha menahan air mata yang hendak bersiap-siap jatuh di wajah kakakku. Aku hanya melihati dengan linglung tubuh yang kini terbujur kaku dan dingin dihadapanku dan kakakku. Aku kali ini tak mampu berkata-kata. Aku hanya bisa membisu. Untuk kedua kalinya, aku kehilangan sosok yang sangat kusayangi. Aku terus memegang erat lengan kakakku dan aku kali ini tidak akan ikhlas jika harus kehilangan dia juga untuk yang ketiga kalinya. Mungkin cukup ibuku dan ayahku yang ikut menyusul kehadapan Sang Kuasa. Aku hanya duduk di belakang punggung kakakku. Aku berusaha sembunyi dari kenyataan yang saat ini ada didepan mataku. Aku tak sanggup kalau harus melihat semua kenyataan ini. Sekarang orang yang aku punya hanyalah kakakku seorang. Aku tak mau lagi kehilangan untuk yang ketiga kalinya, aku juga tidak mau pergi meninggalkan kakakku sendirian. Kasihan dia, bila aku juga pergi. Dia akan kesepian.

Kakak, tenang saja. Aku masih ada disini, bersamamu. Aku berjanji, aku tidak akan berani lagi mengucapkan doa itu. Karena aku tahu, jika aku mengucapkan doa itu lagi. Maka, kau yang pergi, kakak. Dan aku tidak mau itu terjadi. Dan aku juga tidak mau meninggalkanmu, kakak. Aku menyayangi ibu, ayah, dan engkau juga kakak. Ku mohon, jangan kau ikut mereka. Cukup mereka, kak. Aku tak mau kau lagi yang kesana. Jika kau pergi kesana, bawalah aku ikut serta. Aku rasa hidupku hampa jika aku juga harus kehilangan sosok seorang kakak. Tetaplah ada dihidupku, kakakku….

***

Aku terbangun saat adzan shubuh mulai bertiup di daun telingaku. Hangatnya suara adzan membuatku terbangun dan ingat kepada-Nya. Aku pun keluar dan membangunkan kakakku untuk mengajaknya shalat berjamaah. Biasanya ayahkulah yang selalu menjadi imam. Kini, kakakkulah yang menggantikan ayahku.

Selepas shalat, kami berdua berdoa. Kakakku dengan khidmat memimpin doa. Aku tahu, dari suaranya. Aku bisa melihat bahwa sekarang dia sedang meneteskan air mata, saat kami berdoa menyebut nama ibu dan ayah. Aku tidak mungkin menangis disaat seperti ini. Aku tidak boleh menangis. Kalau aku menangis, lalu siapa yang akan menghapus air mata kakakku? Tapi, tak disangka. Perlahan air mataku jatuh setelah 2 bulan lebih aku harapkan air mata ini dapat menunjukkan wujudnya. Aku menangis tanpa suara, berbeda dengan kakakku yang berdoa untuk menutupi tangisannya. Setelah selesai berdoa. Kakakku terkejut melihat keadaanku. Tanpa kusadari, air mataku mengalir deras, terisak aku menangis. Kakakku langsung mendekatiku dan mendekapku. Kali ini dia yang berperan sebagai penghapus air mata.  Ku tahu kakakku mendekapku. Tangisanku semakin menjadi. Aku menangis seperti orang yang kesusahan bernafas.

Menangislah, adikku. Kakak tahu, kamu selama ini ingin menangis dan mengeluarkan semuanya. Sekarang ada kakak disini, menangislah sebisamu. Bila beban terlalu lama disimpan, itu tidak akan baik. Kakak akan menemanimu sampai kamu puas mengeluarkan semuanya. Ini memang berat untuk kita berdua. Kamu harus tabah ya. Doakan saja mereka berdua disana tenang, dan bahagia disisi Allah SWT. Kakak tidak akan meninggalkanmu. Kamu juga jangan tinggalkan kakak. Mulai sekarang, kita akan hidup hanya berdua. Tanpa ayah, dan tanpa ibu. Kita akan berjuang untuk hidup kita kedepan nanti. Jika aku membutuhkan bantuan, hanya kamu adikku tempatku mengadu. Begitu juga denganmu, jika kamu butuhkan sebuah pelukan, datanglah pada kakak. Walau kakak bukanlah seorang ibu atau ayah. Tapi, kakak akan berusaha semampu kakak untuk memberikanmu perhatian yang sama seperti ibu dan ayah. Aku menyayangimu, adikku.” Setelah mendengar perkataan kakakku itu. Tangisanku pun berhenti. Kurasa, air mataku sudah  berhenti bertugas. Sudah puas mungkin aku menangis. Aku pun melepaskan diri dari dekapan kakakku dan menghapus air mataku.

Terima kasih ya kak.” Aku tersenyum kepada kakakku.

Iya, sama-sama.” Kakakku membalas senyumanku. Wajah kakakku seakan menggambarkan keterbukaan dirinya untuk selalu memelukku. Aku pun memeluk kakakku, dan kakakku pun menerimanya. Tiba-tiba, aku merasakan nafasku terengah-engah. Aku susah bernafas. Angin semilir pun kembali lewat di hadapanku. Aku kembali sadar untuk yang kelima kalinya. Kurasakan tubuhku terjatuh kebelakang. Kulihat wajah kakakku yang cemas sambil menggoyang-goyangkan tubuhku. Dia seperti akan menangis, dia terus-terus memanggil namaku. Tetap saja. Mulutku berat untuk mengatakan padanya, bahwa aku kesusahan bernafas. Aku terdiam dalam belenggu air mata. Kakakku seperti terus berusaha membangunkanku, sepertinya. Padahal, aku sedang membuka mataku. Tapi, tiba-tiba mataku berat. Dan cahaya wajah kakakku mulai tenggelam dengan warna hitam. Aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi saat ini. Perasaan berat ini  kembali muncul untuk yang kedua kalinya. Aku berusaha membuka mataku. Namun nihil. Mataku tidak bisa terbuka. Gelap, hitam, pekat. Hanya itu yang bisa aku lihat. Diam, sunyi, hampa. Hanya itu yang bisa kudengar. Aku hanya bisa menjerit didalam hati. Saat ini, hanya hatiku lah yang bisa berbicara. Aku seakan tidak lagi memiliki mata, telinga, bahkan mulut. Yang kumiliki saat ini hanya hati. Didalam hati. Aku berteriak, aku berteriak dengan menyebutkan kata ibu ibu, ayah ayah, kakak dan kakak. Namun, tak ada satu orang pun yang menyahut.

***

Aku terus menelusuri ruang hampa berwarna putih ini. Aku sendiri bingung, tempat macam apa ini. Aku hanya berjalan lurus, lurus, dan terus lurus dengan berusaha melihat mencari kehidupan di ruangan ini. Hingga, aku menemukan sesuatu. Sesuatu itu, adalah sebuah bangku.  Ya, bangku yang seperti ada ditaman pada umumnya. Hanya saja warnanya putih. Mataku terus meneliti benda itu. Kulihat lagi. Ada dua orang duduk  disana. Seorang lelaki dan wanita. Satunya menggunakan pakaian kokoh putih dan kopiah putih. Dan wantia tersebut juga menggunakan baju muslim putih dan jilbab putih panjang hingga menutupi setengah bagian tubuhnya. Ku berusaha meneliti lagi, siapakah mereka. Mungkin aku bisa bertanya, tempat apa ini. Betapa terkejutnya aku. Ternyata kedua orang tersebut adalah ayah dan ibu.

Ayah!! Ibu!!.” Aku berteriak memanggil mereka. Mereka pun berdiri dan melihat kearahku. Silau. Cahayanya silau sekali. Wajah mereka begitu menyilaukan. Mataku pun berusaha keluar dari lingkup cahaya indah ini. Kulihat mereka tersenyum padaku. “Lian..” ucap mereka memanggil namaku. Aku pun tersenyum, dan menangis bahagia. Aku mengajak kakiku untuk berpijak menghampiri mereka. Semakin dekat. Makin dekat. Dan tinggal lima langkah lagi mendekati mereka. Akan tetapi, seseorang seperti menarik tanganku. Seseorang itu memegang tanganku. Dan mengajakku untuk kembali mundur. Kulihat orang tersebut. Dia tinggi, dan juga mengenakan baju kokoh serta kopiah putih. Dia pun melihat kearahku. Dia tersenyum. Aku membalas senyumannya dengan wajah heran. Sebenarnya, dia tidak kuat menarik tanganku, tapi tubuh seakan tertarik kuat. Aku pun berteriak memanggil nama ibu dan ayah sambil melihat kearah mereka. Mereka hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Entah apa itu artinya. Makin lama, bayangan mereka perlahan hilang. Aku pun kembali menghadap ke depan. Mengikuti kakakku yang aku tidak tahu mau dibawa kemana aku olehnya. Tangan kirinya menggenggam erat tangan kananku. Aku terus mengikutinya berjalan di belakang. Aku hanya memandanginya dari belakang. Kali ini tidak ada kesadaran untukku. Aku seakan tidak lagi punya kesadaran untuk mengetahui apa yang sedang terjadi sekarang. Hingga akhirnya, kakakku membawa ku keujung dari tempat putih ini. Sebuah pintu yang nampaknya diluarnya penuh dengan kegelapan. Entah karena apa, aku takut melihatnya. Aku menarik tangan kakakku. Tiga langkah menuju pintu, kakakku berhenti karena aku menarik tangannya. Dia menatapku dalam dan bola matanya seakan bertanya. Kenapa aku menarik tangannya.

Kita mau kemana? Ketempat gelap itu? Aku takut kesana.” Ucapku memohon agar kakak tidak membawaku kesana. Dia hanya tersenyum. Dia kembali membawa tangan serta tubuh ku melangkah jalan kedepan. Aku pun menarik nafas saat , melewati pintu ini. Tapi, aku sungguh heran. Didepan pintu tersebut. Ada sebuah tangga yang menurun kebawah. Sekeliling tangga tersebut gelap sekali. Ruangan kosong sama seperti tempat tadi. Hanya saja, warnanya hitam semua. Dia masih menggenggam tanganku. Dengan pelan-pelan dia membawaku menuruni tangga yang terang dan indah ini.

Hati-hati, pelan-pelan ya turunnya.” Akhirnya dia mengeluarkan suara juga. Sedari tadi dia membawaku pergi, baru keluar dari tempat putih tadi sekarang baru dia berbicara. Aku membalas senyumannya. Aku yakin. Dia adalah kakakku. Dari, postur tubuh, wajah sampai suaranya. Aku yakin orang yang sedang menuntunku kesuatu tempat yang tidak kuketahui ini pasti kakakku. Aku terus menuruni tangga dengan tidak ada rasa lelah sedikit pun mataku hanya berfokus ke depan, melihat dia. Aku tak berani melihat kearah kanan, ataupun kiri. Karena semuanya hanyalah hampa, kosong dan gelap. Sedangkan, apa yang aku lihat dihadapanku ini. Adalah sebuah nyata, satu-satunya yang tidak  hampa, gelap, dan kosong belaka. Tapi, semakin ku perhatikan. Kenapa, tubuhnya semakin mengecil? Apa ini pengaruh dari aku menuruni tangga?? Badannya sama tingginya denganku.Tangga pun berakhir. Tapi. Kenapa dia belum juga berhenti?? Masih saja membawa ku maju jalan kedepan. Hingga dia membawaku menembus gelap. Seakan menembus tembok. Tidak ada rasanya. Hanya gelap, hampa, kosong seketika yang kurasa. Tapi, semua terbalas. Aku menatap takjub dan kagum saat memandangi pemandangan yang tersuguh didepanku saat ini. Dia berhenti, aku pun juga berhenti. Dia menukar tangan kirinya dengan tangan kanannya. Dia menarikku kesebelah kanannya. Kini tangan kanannya yang menggenggam tangan kiriku. Aku pun melihat kearahnya. Tapi, apa ini? Kenapa dia, kakakku. Berubah? Bukankah kakakku tinggi? Lebih tinggi dariku? Tapi, kenapa sekarang dia sama tingginya denganku? Saat dia melihat kearahku. Wajahnya sedikit berubah, sedikit lebih muda, namun tetap sama seperti wajah kakakku. Siapa orang ini? Sedikit asing bagiku. Apakah dia kakakku? Dia pun kembali menarik tanganku dan membawa ku berkeliling ditempat ini. Indah sekali. Karena keindahan tempat ini. Aku jadi lupa tentang tadi. Banyak pohon rindang, angin sejuk. Bahkan ada masjid besar nan megah disitu. Jiwaku sunggu tenang disini. Dan aku juga merasa aman dan nyaman berada disebelah orang ini. Dia mengajakku kesebuah jembatan kecil. Dibawah jembatan itu mengalir air jernih nan segar. Ikan-ikan tampak senang bermain di air jernih itu. Burung-burung bersahutan. Karena dia melihat aku senang. Dia mengajakku kepinggir sungai mengalir tersebut. Aku pun berjongkok dan memainkan air segar ini. Aku melihat kearahnya dengan senyum lebar, dia membalasnya dengan senyuman lebar juga. Dia masih tidak melepaskan tangannku. Dia pun berdiri. Itu tandanya. Dia akan mengajakku pergi berkeliling lagi. Hingga dia berhenti di tengah jalan. Ada satu tempat yang membuatku ingin kesana. Belum sempat aku menjelikan mata itu melihat tempat yang ada bangunan berwarna hitam dari kejauhan itu. Dia berdiri menghadapku di depanku. Dia tersenyum. Mataku lari mencari tahu tempat itu, tapi dia berusaha menangkap pandanganku. Dia pun berhasil menangkapnya. Dia masih tersenyum. Kepalanya  menutupi pemandangan tempat itu. Aku penasaran sekali. Dia masih tersenyum. Aku pun juga tersenyum. Senyumannya sangat mirip seperti kakakku. Dan akhirnya. Aku sadar untuk yang keenam kalinya. Dia mungkin adalah gambaran kakakku saat masih muda, saat masih seumuranku. Dan tempat indah ini. Aku tidak bisa mendefenisikan pasti akan tempat macam apa ini. Satu kata untuk tempat ini. Indah.

Dia masih menatapku. Bola matanya yang berbinar seakan berbicara. “Apa yang sedang menarik perhatianmu? Lihatlah aku yang ada didepanmu!.” Kurang lebih seperti itulah penggambaranku saat melihat matanya. Matanya penuh dengan asa, dan seakan asa itu pasti terwujud. Belum pernah aku mendapati mata seseorang yang sebersinar ini. Matanya seakan menggambarkan jiwanya yang bahagia.  Hanya satu orang yang kuketahui memiliki mata seperti ini. Yaitu kakakku. Tapi, orang yang kuhadapi ini bukanlah lagi kakakku. Aku tak tahu pasti siapa dia. Tapi, aku tetap bersikukuh menganggap bahwa dia adalah kakakku.

Setelah lama menatapku, dia mengembangkan senyumannya. Lebar, dia tersenyum lebar. Seperti dia sedang melihat burung cendrawasih mengepakkan sayap dihadapan dia. Padahal, itu mustahil. Didepannya, aku sedang berdiri. Lalu apa yang membuat dia senyum selebar ini? Entahlah, aku juga bingung. Akalku tak sanggup lagi menelan kemasuk akalan dari apa yang terjadi sampai saat ini.

Kembalilah lagi kesini, jika waktumu tiba nanti…” Dia mengejutkanku dengan ucapan itu. Tak lama tersenyum lebar, dia mengucapkan kata-kata yang sulit dicerna oleh otakku.

Maksud kakak apa?.” Aku bertanya heran kepadanya. Dia kembali tersenyum. Tangan kanannya yang awalnya menggenggam tangan kiriku. Perlahan, dia mulai melepaskannya. Belum sempat dia menjawab pertanyaan ku tadi. Cahaya menyilaukan turun di hadapanku. Sedetik aku tak bisa melihat wajahnya.

Kakak!! Kakak!!.” Panikku memanggil namanya. Tiba-tiba wajahnya muncul dari balik cahaya.

Aku bukanlah…..” Belum sempat aku mendengar kalimat terakhir itu. Aku sudah tersadar untuk yang ketujuh kalinya.

Kembali kurasakan aku susah bernafas. Namun, aku merasa lain kali ini. Aku merasa seperti balon. Balon yang sedang ditiup dimulut. Yang awalnya  karbondioksida masuk dan berada didalam balon, tapi tiba-tiba karbon tersebut masuk kembali keparu-paruku. Seperti itulah yang kurasakan sekarang. Mataku terbuka!! Tidak jelas. Ya. Mataku kabur. 1, 2, 3, 4, dan hitungan kelima. Mataku mulai normal. Tapi, apa ini? Tempat apa lagi ini? Kenapa aku seperti sedang ada di ruangan. Nafasku kembali naik turun. Mungkin karena terkejut. Tapi, siapa orang-orang ini? Kulihat dua orang sedang berdiri disebelahku. Aku sedang terbaring?? Satu orang perempuan memberikan beberapa perkakas medis, sepertinya, kepada seseorang yang menggantungkan alat untuk mendengarkan denyut jantung. Kedua orang itu nampak panik melihat aku. Dia beberapa kali menyinari mataku dengan senter kecil, dan memegang keningku. Tak lama, kedua orang itu tersenyum lebar. “Allhamdulillah, dia sudah sadar, bu.” Kata orang yang memeriksaku tadi. Sadar? Apa maksudnya? Memang apa yang baru saja terjadi? Aku semakin bingung saja. Kemudian, kulihat di sekelilingku. Apa?!! Itu, wanita itu. Bukankah dia ibuku? Kenapa bisa?? Dan itu juga, bukankah itu ayahku? Kenapa bisa? Kenapa banyak orang disini? Apakah aku sedang bermimpi. Kuperhatikan sekelilingku. Ruangan dirumah sakit? Ya, ini ruangan dirumah sakit. Apakah aku sedang sakit? Semua ada disini! Ayah, ibu, sahabatku Rani, Diyah, Alya, dan ada seorang anak kecil yang memanggilku dengan sebutan “Kakak!!.” Tapi, siapa anak kecil itu? Apakah dia adikku? Atau adik sepupuku? Tapi, selain itu yang membuatku bingung. Ada seorang anak lelaki yang mungkin sebaya denganku. Yang duduk dan langsung berdiri sambil melafaskan hamdallah. Rani, Diyah, Alya, serta yang lain. Mereka semua menggunakan baju muslim. Mereka, memegang ayat suci Al-Qur’an. Apa yang terjadi? Anak lelaki itu, sangat mirip dengan orang yang baru saja tadi mengajakku ketempat yang indah tadi. Orang yang merupakan wujud muda dari kakakku, Gian. Apakah dia kak Gian? Tapi, kenapa badannya tidak setinggi yang  seperti biasanya?? Siapa dia?? Apakah dia orang yang sama yang menuntunku keluar dari ruangan putih itu? Apakah dia orang yang sama yang menuntunku menuruni tangga indah itu? Apakah dia orang yang sama yang menuntunku dan menunjukkan kepadaku tempat yang terindah dari yang pernah aku lihat? Dan apakah, dia juga orang yang sama dengan kakakku? Apakah dia kakakku?

Aldi, syukurlah. Kumala sudah sadar.” Aku tahu itu pasti sahabatku yang bernama Alya.

“Iya, Alya. Allhamdulillah dia sudah sadar. Ini berkat doa kita semua. Aku sangat bersyukur.” Kata orang yang mirip dengan kakakku itu. Kumala?? Aldi?? Siapa itu?? Nama siapa itu?? Kumala?? Apakah itu nama “Dia”.? Dan apakah “Dia” itu aku? Aldi? Apakah Aldi adalah nama anak lelaki itu? Bukankah itu kak Gian? Kumala itu diriku? Bukankah namaku adalah Lian Damalia? Dan Aldi, bukankah nama dia adalah Gian Damalang? Gian Damalang kakakku. Jujur, aku bingung sekali. Apa aku sedang bermimpi?? Jika ini mimpi, ini cukup indah. Mungkin sangat indah. Indah karena, masih ada ayah ibu disini. Walau membingungkan dengan, Kumala, Aldi, anak kecil yang memanggilku dengan sebutan kakak, ruang rumah sakit, dan semua ini.

Seseorang yang bernama Aldi itu tersenyum kepadaku. Ya Allah, senyumannya sama dengan senyuman kakakku. Aku semakin yakin dia adalah kakakku. Bahkan, saat terlintas matanya melihatku. Aku dapat melihat, sebuah asa yang telah terwujud di matanya. Kulihat ayah dan ibuku dengan menangis haru bahagia mendekatiku. Tapi, kenapa aku bisa mendengar apa yang di ucapakan Alya dan orang yang bernama Aldi tadi. Dan kenapa aku tidak bisa mendengar apa yang diucapkan ayah dan ibuku? Mulut mereka bergerak, tapi aku tidak bisa mendengar apa-apa. Dan juga. Aku tidak bisa mengeluarkan suaraku. Aku juga tidak bisa menggerakkan tubuhku. Hanya mataku saja yang sudah jelas melihat orang disekelilingku. Telingaku berdengung. Perlahan namun pasti. Kebisingan diruangan ini mulai terdengar olehku. Hanya saja, aku masih belum bisa mengangkat garis tipis bibirku untuk membalas senyuman mereka, dan juga membalas apa yang mereka katakan. Aku jadi ikut bahagia melihat mereka semua mengucapkan Allhamdulillah dan wajah mereka nampak bahagia. Walau sebenarnya aku tidak mengerti apa yang terjadi sekarang.

***

Beberapa selang dihidungku serta infus mulai berkurang dari jumlah yang kulihat pertama kali, hari ini. Walaupun, aku masih belum sempurna berbicara dan tubuhku masih belum bisa bergerak sepenuhnya bahkan mungkin aku masih lumpuh. Karena aku tidak tahu, mungkin aku tertidur ditempat ini. Tapi, aku bisa berbicara dengan mataku. Aku selalu membalas dengan tatapan orang-orang yang tersenyum kepadaku. Aku tidak tahu bagaimana wajahku sekarang. Tanpa tersenyum, berbicara, hanya mataku yang liar mencari tahu apa ini.

Diruangan sekarang, hanya ada ayah, ibu, dan anak kecil yang mungkin dia adalah adikku. Adikku sedang duduk disampingku sambil bermain beberapa mainannya. Sekarang, aku sudah menerima kenyataan mungkin dia memang benar adikku. Walau aku tak tahu pasti ini mimpi atau bukan. Tapi, aku jalani saja dulu. Kedua orang tuaku sedang berbicara dengan dokter yang memeriksa ku kemarin.

Ini semua berkat doa kita selama ini. Akhirnya anak bapak dan ibu bisa sadar kembali. Walau tubuhnya masih begitu lemah untuk pulih sepenuhnya. Itu juga karena pengaruh selama ini. Tentunya, kita patut bersyukur kepada Allah SWT. Yang telah mendengar doa kita. Kita doakan saja, setelah ini. Dia bisa menjalani hidupnya normal seperti biasa. Tapi, kemungkinan dia akan mengalami amnesia. Beberapa orang mungkin tidak mampu dia ingat. Tapi, itu bersifat sementara. Ingatannya akan kembali, pasti. Yang terpenting sekarang dia sudah sadar.” Ucap dokter itu. Dari penjelasan dokter itu. Aku bisa menebak. Mungkin aku baru sembuh dari sakitku. Tapi, aku tidak bisa mengetahui pasti kenapa aku bisa terbaring disini. Aku masih berbaring di ranjang ruangan ini. Mataku terus mengawasi adikku yang nampaknya sedang asyik bermain dengan mainannya.

Kakak! Lihat!! Aku punya robot. Kakak mau satu? Ini, aku berikan satu untukmu, kak.” Anak kecil itu meletakkan salah satu robotnya ditangan ku. Aku senang. Anak kecil ini mengajakku bermain. Aku berusaha menggenggam mainan ini. Tapi, aku sudah berusaha keras. Tetap saja, tanganku rasanya mati rasa. Ayah dan ibuku menghampiriku. Mereka berdua merubah posisiku. Aku yang terbaring, mereka menaikkan sedikit tubuhku, sehingga aku dalam posisi terduduk.

Sebentar lagi teman-temanmu akan datang.” Ucap ibuku sambil tersenyum. Tak lama aku menunggu. Ibu dan ayah, serta adikku dan dokter keluar. Masuklah Alya, Diyah, Rani, dan Aldi beserta beberapa orang yang sebaya denganku. Mungkin ada sekitar 10 orang yang datang menjengukku. Tapi, aku tidak ingat mereka. Wajah mereka seperti kukenal. Tapi, aku lupa siapa mereka. Mereka berbondong-bondong membawakan buah dan beberapa jus dalam kemasan. Mereka tersenyum.

Kumala, ini teman-temanmu. Mereka datang kesini untuk menjengukmu.” Ucap Rani.

Iya, Kumala. Mereka semua ini adalah teman-temanmu. Ini baru bagian kecil dari temanmu. Masih ada temanmu yang lain.” Aldi menambah ucapan Rani.

Hai Kumala. Kamu ingat aku? Aku Marinisa.” Seseorang anak perempuan tinggi, putih dan berambut pendek menyebut namaku dengan nama Kumala. Dia memperkenalkan diri seakan menyuruhku untuk mengingat siapa dia.

Kumala, aku Fitri!.”

“Kalau aku, Oliv.”

“Kalau aku, Iis.”

“Kalau aku, Mutia.”

“Kalau aku Feby, kami semua ini temanmu Kumala. Kami teman satu sekolahmu. Kami harap, kamu segera ingat dengan kami.”

Mataku riang gembira. Ternyata di mimpi ini aku memiliki banyak teman. Bahkan Aldi bilang tadi, mereka baru sebagian kecil dari temanku. Tak pernah aku merasakan bahagia memiliki teman banyak seperti ini.

Ak-kk-ku Ter-rr-har-ru.” Karena senangnya. Tanpa kusadari. Aku membuka mulutku dan aku sedikit bisa berbicara. Akhirnya aku bisa berbicara juga.

Aldi, teman-teman!! Kumala bisa bicara!!.”

“Iya, syukurlah dia kembali  bisa berbicara.”

“Kumala bilang apa tadi?.”

“Kumala bilang dia terharu.”

Aku semakin senang mendengarnya. Mereka nampak senang mengetahui aku dapat berbicara. Aldi mendekatiku. Dia mengambil gelas, dan Marinisa menyusul menuangkan jus kemasan ke sebuah gelas.

Kami membawakanmu jus, agar kesehatanmu dapat kembali pulih.” Kata marinisa. Aldi pun menyuguhkan jus tersebut kepadaku. Aku berusaha meraih gelas itu. Aldi dan marinisa sadar bahwa aku masih belum bisa menggerakkan tubuhku. Aldi pun mendekatkan gelas kemulutku. Sepertinya, Aldi adalah salah satu sahabatku. Dia baik sekali kepadaku, dia selalu ada dari kemarin sebelum aku bermimpi tentang ini. Tanpa usaha, dan berpikir keras. Tanganku meraih gelas yang di pegang Aldi. Yang lain terkejut. Tapi, tanganku masih terlalu lemah untuk memegang gelas ini. Akhirnya tanganku terjatuh ditangan Aldi, dia pun tersenyum padaku. Aku juga tersenyum.

***

Setelah yang lainnya pulang. Tinggal Rani, Alya, Diyah dan juga Aldi yang menemaniku di kamar rawatku.

Ra-ra-nii.” Aku berusaha berbicara.

Ya, Kumala?.” Jawab Rani.

“Kenapa aku bisa ada disini?.” Bicaraku mulai lancar.

“6 bulan yang lalu. Kamu kecelakaan, Kumala. Saat akan menyeberang, sebuah mobil putih menabrakmu. Kamu mengalami gegar otak parah. Dan kamu koma sampai 6 bulan lamanya. Makanya, kamu ada disini sekarang. Dokter menjelaskan kemarin padaku. Kemungkinan untukmu terkena amnesia itu besar. Dan nyatanya kamu sekarang mengidap amnesia sementara. Dan, tubuhmu juga masih belum pulih. Itu karena sudah 6 bulan lamanya seluruh sistem saraf ototmu lumpuh. Jadi, dibutuhkan waktu yang tidak terlalu lama untuk tubuhmu bisa kembali pulih total.” Jelas Rani.

“Apakah ini mimpi?.” Tanyaku lagi. Tiba-tiba, Alya mencubit tangan kananku.

“Apakah kamu merasakan sakit, Kumala? Jika iya, berarti kamu tidak sedang bermimpi. Dan itu juga tandanya. Urat saraf tangan kananmu mulai pulih.” Kata Alya. Aku hanya tersenyum sambil mengiyakan kepalaku.

“Lalu, apakah kamu Gian?.” Kulempar pertanyaanku kepada Aldi.

“Gian? Siapa itu? Namaku Aldi, Kumala. Memangnya darimana kamu dapatkan nama Gian itu?.” Jawab Aldi.

“Bukankah kamu kakakku yang bernama Gian? Kamu kakakku, bukan?.” Tanyaku lagi.

“Tidak, Kumala. Namaku Aldi, aku temanmu. Dan lagi pula, kamu kan tidak punya kakak.” Jelasnya lagi.

“Tapi, kamu sangat mirip dengan kakakku.” Aku bersikukuh.

“Kakakmu? Mungkin waktu kamu koma. Kamu bermimpi panjang. Dan mungkin, aku sebagai kakakmu dalam mimpimu itu.” Dia sedikit tersenyum.

“Bukan hanya itu, kamu adalah kakakku. Disaat sebelum aku sadar ketempat ini. Kamu adalah kakakku. Dan disaat aku terjebak diruangan putih, dan hendak menyusul ayah dan ibuku. Kamu yang menarik tanganku lalu mengajakku menuruni tangga yang indah. Dimana tangga itu berada di ruangan hampa kosong dan gelap. Kamu juga yang membawaku ketempat terindah yang belum pernah aku lihat. Awalnya kamu adalah kakakku yang tinggi. Tapi, setelah menuruni tangga dan saat kamu membawaku ketempat indah itu. Aku melihatmu. Melihatmu yang sekarang ini. Kalau kamu bukan kak Gian, lalu kamu siapa? Kenapa bisa kamu mampu mengeluarkan ku dari tempat sunyi putih itu? Kenapa bisa kamu mampu menuntunku menuruni tangga dan menuntunku ketempat indah itu?.” Ku lontarkan semua kebingunganku.

Dia tersenyum.

“Itu semua rahasia Allah. Aku pun tidak tahu bagaimana bisa aku masuk didalam mimpimu itu. Yang pasti. Aku bukanlah Gian.” Jelasnya singkat.

Seketika, aku ingat akan kata-kata terakhir kak Gian saat ditempat indah itu.

“Kembalilah lagi kesini, jika waktumu tiba nanti.. dan Aku bukanlah…” dua kalimat itu, yang kalimat itu. Kalimat Aldi sangat mirip dengan ucapan kak Gian yang tak sempat kuketahui ujungnya. Mungkin, yang ingin diucapkan kak Gian adalah. “Aku bukanlah Gian.” Kudengar takbir berkumandang. Ternyata, kemarin adalah hari terakhir puasa. Dan aku terbangun dibulan Ramadhan. Dan aku bersyukur bisa melewati hari nan fitrah ini. Mungkin dia adalah orang yang mampu membuat aku tersadar dari tidurku selama 6 bulan. Mungkin, dia adalah orang yang dimasa depan nanti. Bisa membawaku, ketempat indah itu lagi. Akan kupastikan itu. Dan sekarang aku tahu. Ini bukanlah mimpi. Apa yang aku alami sebelum 2 hari ini. Itulah mimpi. Waktu begitu baik menunjukkan semua ini padaku. Allah SWT. Juga sangat baik menunjukkan sebuah hikmah padaku. Waktu!! Ayo kita Berlomba!!

 

                                                                  TAMAT                 

Kesimpulan:

Cerita ini hanyalah sebuah karangan fiksi belaka. Dari cerita ini, aku hanya ingin mengingatkan kalian. Apakah waktu itu?? Waktu adalah dimana saat kita menganggap waktu atau umur kita sangat panjang. Seperti saat kalian membaca cerita di atas. Tapi, tanpa kita sadari. Waktu sesungguhnya sangat singkat. Sesingkat saat kalian melihat jam dinding kalian. Berapa waktu sudah kalian habiskan untuk membaca cerita ini? Mungkin kalian membaca cerita ini merasa sangat lama. Tapi, itu berbeda saat kalian menyadari waktu yang kalian lewati. Lama kalian membaca, mungkin sebagian dari kalian beranggapan singkat waktu untuk membaca cerita singkat ini. Tapi, hampir setengah jam sudah kalian membaca cerita ini. Bagaimana rasanya? Mengerjakan sesuatu yang dirasa singkat, namun nyatanya banyak menghabiskan waktu? Terkejut bukan? Timbal balik dari itu semua. Kalian beranggapan waktu itu lama. Berusaha seakan-akan kalian akan hidup 1000 tahun lagi. Ya, dan apakah kalian sadar? Waktu kalian hanya sesingkat jarak antara waktu Magrib dan Isya. Dan tanpa kalian sadari, kalian banyak membuang percuma waktu kalian. Maka dari itu, jangan baca ulang cerita ini. Cobalah, untuk mengerti dari arti waktu. Bukan ceritanya. Sadarlah. Waktu kalian sudah dekat. Jika kalian membaca ulang cerita ini. Waktu kalian terbuang percuma untuk membaca sesuatu yang belum tentu kalian akan tersadar akan itu. Maka dari itu, aku buat cerita ini sesederhana mungkin. Kesamaan nama dalam cerita ini memanglah disengaja. Dibuatnya cerita ini, ku tujukan untuk orang-orang yang ada didalam cerita yang tanpa mereka sadari. Aku sangat menyayangi mereka, walau mereka tidak ada disisiku sekarang….

 

 

THANK YOU FOR READ THIS STORY….

 

 

 

KUMALA SEPTIAWATI – LENTUHUT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s